Dari Arch Linux ke Fedora

Setelah sekian lama menggunakan Arch Linux, kini saya memutuskan untuk kembali lagi ke Fedora. Mengapa?

Seperti kebanyakan orang kencendrungan menggunakan Linux adalah bergonta-ganti distro, sampai menemukan yang pas.

Arch Linux merupakan distro yang paling lama saya gunakan, dibandingkan distro lainnya.

Karena ia satu-satu distro yang cocok dengan apa yang saya inginkan. Yakni mudah diupgrade, aplikasi terbaru dan tidak terikat pada DE tertentu.

Salah satu hal yang unik ketika saya mencoba distro lainnya, entah mengapa ujung-ujungnya selalu kembali ke Arch Linux. Semua tidak pernah bertahan sampai sebulan.

Ke Fedora

Ketika saya sudah tidak tinggal di Jakarta, saya memutuskan untuk menggunakan Fedora. Mengapa?

Karena Internet di sana tidaklah sebagus waktu di Jakarta. Dan pada saat pindah, saya juga tidak menggunakan ISP kabel, hanya mengandalkan MiFi dengan kuota dari kartu.

Fedora merupakan distro yang memiliki delta package, dengannya memungkinkan dapat menghemat kuota.

Selain itu, Fedora juga bukan distro rolling release. Jadi bisa menekan untuk tidak mengupgrade setiap hari, seperti Arch Linux, ini juga masuk kategori penghematan kuota.

Namun setelah waktu 2 minggu, sembari saat itu saya memasang IndiHome, penyakit saya kambuh lagi. Yakni ingin balik lagi ke Arch Linux, dan itu saya lakukan hingga sekarang.

Berawal dari salah satu teman di grup Telegram yang mempromosikan Fedora Silverblue, dengan keunikan ostree dan immutable os.

Sebetulnya saya sudah tahu lama mengenai Silverblue namun karena konsep ostree dan immutable os itu terasa asing ditelinga saya, makanya saya abaikan. Lebih baik pakai versi workstation saja.

Tidak seperti dulu, ketika ada hal baru di Linux saya selalu cari tahu. Fokus saya sekarang lebih kepada software development. Jadi pakai distro yang ada, yang penting stable dan kebutuhan development terpenuhi.