Balik Pakai Arch Linux Lagi

Hanya karena lihat-lihat statitik Manjaro berada ditingkat kedua di Distro Watch.Saya baru aja 3 bulan pakai Fedora sudah mau kembali lagi pakai Arch Linux.

Entah mengapa ini selalu terjadi di saya, coba-coba distro, gak lama pasti balik lagi ke Arch Linux. Tetapi dari distro selain Arch Linux yang telah saya coba. Saya selalu menemukan hal-hal unik.

Adanya keunikan inilah yang membuat saya mencoba menerapkannya di Arch Linux. Seperti distro Fedora sebelumnya yang telah saya pakai. Saya menemukan beberapa dua hal unik yang belum saya terapkan di Arch Linux, yakni:

Menggunakan Btrfs

Sejak Fedora menerapkan btrfs sebagai default disk format, saya jadi tertarik mau pakai Arch Linux dengan btrfs.

Sebetulnya btrfs sudah lama saya ingin coba. Tapi karena dulu dipikir ext4 lebih banyak dipakai sebagai default dari distro-distro besar, maka saya enggan.

Belum lagi btrfs terkenal belum stabil dan lebih lemot dibandingkan ext4, keinginan mau pakai jadi semakin berkurang.

Tapi meski demikian OpenSUSE menggunakan btrfs secara default. Entah mengapa distro yang satu ini, saya gak pernah mau pakai 😅 padahal dulu sempet coba tertarik dengan paket manangernya si zypper yang keren.

Menggunakan FingerPrint Untuk Segala Hal

Sejak pake x260 saya senang mengaktifkan FP (FingerPrint) sebagai login page. Awalnya hanya untuk kebutuhan login, namun lama-kelamaan saya aktifkan juga buat kebutuhan paket manager. Ini juga terinspirasi dari Fedora.

Oh iya, sebetulnya saya gak suka FP di laptop saya, karena FP nya kurang sensitif terhadap jari saya yang rada rapat, jadi sering tidak terdeteksi. Apalagi kalau tangan saya basah karena keringat tambah susah. Saya lebih senang FP di HP saya, lebih responsif wkwkwk.